Starbak Mpok Sopia

Posted: November 7, 2011 in Renungan & Motivasi

Kampungnya Kunang bergetar sejak Mpok Sopia membuka usaha. Mpok Sopia adalah tetangga tujuh rumah dari tempat kediaman Kunang. Ia membuka usaha Warung Kopi, namanya “Starbak Kopi”. Mpok Sopia mengobral cerita bahwa warung kopinya menguntil warung kopi Starbucks, warung kopi orang bule di Amerika yang bermarkas di Seattle, Washington. Melalui Starbak Kopi, Mpok Sopia ingin membuat orang-orang dikampungnya tidak lagi kampungan tetapi gaul dan internasional, istilah modern.

Sejak tangannya patah tertimpa pohon mangga, Kunang tidak lagi nongkrong di warnet. Ia sekarang nongkrong di warung kopi Starbak Mpok Sopia. Nogkrong di Starbak punya sejuta keuntungan dibanding di warnet. Hanya dengan membawa uang dua ribu rupiah ia bisa duduk seharian dengan segelas kopi. Kunang terkadang iba juga melihat Mpok Sopia karena lebih banyak orang yang meminta air panas daripada menambah kopi. Pokoknya tidak ada tempat sebaik dan semurah hati seperti warung Starbak Kopi Mpok Sopia.

Sore itu Kunang sedang menunggu lawan bicara yang tertangguh di warung itu. Dua jam terlewatkan dengan harap-harap cemas. Air panas sudah dua kali ditambahkan pada kopinya. Bahan perdebatan sudah masak di kepalanya. Cermin, kamar mandi, dapur, dan kamar tidur mungkin sudah bosan mendengar kata-katanya. Tiba-tiba mulutnya tertutup rapat dan tertarik ke samping menghasilkan senyum satu garis. Kaocek datang dengan berpenampilan rapi. Teman-teman memanggil dia si pengacara alias si pengangguran banyak bicara. Jika Kunang senang karena kedatangan Kaocek, sebaliknya tidak dengan Mpok Sopia. Kaocek adalah pengutang paling tangguh di warungnya.

“Darimana engkau akan memulai perbaikan negeri ini?”, tak sabar Kunang ingin memulai debat kusir. “Hukum! Jika hukum ditegakkan setegas-tegasnya, saya jamin penjahat akan kapok”, sembur Kaocek bersemangat sambilo mengangkat jari telunjuknya kepada Mpok Sopia. “Tidak, harus perbaikin ekonominya terlebih dahulu. Ekonomi baik, pendidikan bagus, orang pun akan semakin melek hukum dan kejahatan berkurang”, kata Kunang serasa paling bijak di warung itu. “Justru pelaku kejahatan di negeri ini bukan orang bodoh tetapi orang pintar. Bukan orang miskin tetapi orang kaya. Tetapi karena hukum tidak ditegakkan dengan setegas-tegasnya, mereka tetap berbuat jahat”, Kaocek berucap sampai berbusa-busa. Percakapan itu semakin hangat dan semakin ngotot. Orang-orang di warung serasa sedang menonton acara Jakarta Lawyers Club yang tidak jelas ceritanya. “NGOCEH melulu. Bicara seperti orang hebat. Anak dirumah keliaran tidak ada juntrungannya. keluarga terabaikan seperti tidak ada yang mimpin. Bagaimana keluarga bisa bagus kalau dirumah tidak ada yang jadi teladaCepet sono pulang!”, istri Kaocek tiba-tiba datang sambil mencak-mencak. Kaocek punsegera diam seribu bahasa lalu pergi nyelonong begitu saja.

“Kunang, jika engkau ingin memperbaiki negeri ini, mulailah dari keluarga”, tiba-tiba si kakek berbisik dipinggirnya membuat Kunang hampir saja tersedak bubuk kopi. “Maksud kakek?!” “Baik buruknya sebuah masyarakat bersahabat dengan baik buruknya keluarga-keluarga dalam masyarakat itu. Masyarakat yang rusak adalah cerminan dari keluarga-keluarga yang bermasalah. Banyak anak-anak belajar tentang kekerasan itu dalam keluarga. Belajar kebencian dan dendam dari orangtua. Belajar mencuri dari ayah yang korupsi. Belajar berputus asa dari ibu yang terus mengeluh. Belajar untuk tidak takut kepada Tuhan dari orangtua yang cuek terhadap pertumbuhan iman”, ujar si kakek panjang lebar.

“Dengerin tuh, Nang….”, tiba-tiba Mpok Sopia nyela dengan ketus karena terbayang wajahnya Kaocek. “Anak-anak saat ini membutuhkan figur yang bisa diteladani dalam keluarganya. Kita butuh orang-orang tua yang dapat menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian bagi siapapun(lihat 1 Timotius 4:12). Mulailah dari keluarga kita bukan keluarga orang lain’, ujar si kakek sambil meninggalkan warung Strabak, seputar gerobak, milik Mpok Sopia. Kunang terdiam sedih karena perkataan si kakek mengingatkan ia akan bapak dan ibunya dulu.

 

Sumber : Pdt. Rinto Tampubolon (GKI Seroja)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s