Archive for the ‘Renungan & Motivasi’ Category

Key to Success

Posted: November 7, 2011 in Renungan & Motivasi

Berikut ini saya ingin membagikan tips langkah demi langkah untuk meraih kesuksesan yang saya rangkum dari sebuah buku karangan saudara Muhammad Aulia. Semoga berguna! 🙂

TULISKAN SASARAN

Ketika mengambil sehelai kertas dan sebatang pena, lalu mulai menuliskan sasaran-sasaran Anda, Anda sebenarnya sedang mengaktifkan Hukum-hukum Ekspektasi, Daya tarik dan Korespondensi secara simultan. Tindakan Anda menuliskan sasaran-sasaran Anda akan meningkatkan kemungkinan Anda mampu mencapainya hingga 10 kali lipat (1000 persen!)

BERSEDIA MEMBAYAR HARGANYA

Kemauan Anda untuk melakukan apa saja yang harus dilakukan, berapapun harga yang diminta, pergi kemanapun yang diperlukan, dan berkorban apapun yang harus dilakukan adalah sebuah alat ukur yang menunjukkan seberapa besar Anda menginginkan sasaran tersebut.

BERTINDAKLAH BERDASARKAN PERENCANAAN ANDA

Begitu Anda selesai menetapkan sasaran, menuliskannya, menentukan berapa bayaran yang hendak Anda keluarkan dan membuat perencanaan, Anda harus segera mulai bertindak. Meskipun tindakan yang Anda lakukan itu hanya sekedar menelepon seseorang atau mencari sebuah informasi, yakinkan pada diri Anda bahwa Anda memang melakukan sesuatu. Tindakan Anda itu sendiri sepertinya kemudian memicu timbulnya kekuatan dan tenaga lain yang ada di alam semesta. Anda mengaktifkan hukum Daya Tarik untuk membantu Anda. (sebelum) Sampai Anda melakukan satu hal yang spesifik dan menentukan itu, Anda sebenarnya hanya bermain-main, seperti melamun. Anda memang sudah memasukkan kunci mobil Anda pada tempatnya, tetapi Anda belum memutarnya sehingga mesin mobil belum lagi menyala.

JANGAN PERNAH MENYERAH

Tetapkan sedari awal bahwa Anda tidak akan pernah berhenti begitu Anda sudah memulai perjalanan Anda menuju sasaran. Kemauan dan kemampuan Anda untuk bersikukuh menghadapi segala tantanganlah yang akhirnya akan menjamin kesuksesan Anda.

LIPAT GANDAKAN TINGKAT KEGAGALAN ANDA

Thomas J.Watson Sr. (Pendiri IBM) pernah berkata: “Jika ingin meraih kesuksesan dengan lebih cepat, Anda harus melipatgandakan tingkat kegagalan Anda. Kesuksesan berada diujung seberang kegagalan.”

Kegagalan-kegagalan Anda telah mempersiapkan Anda dalam menghadapi kesuksesan. Seperti itulah, serentetan nasib baik biasanya muncul setelah datangnya serentetan nasib buruk. Semakin sering Anda mencoba, semakin besar kemungkinan Anda menang. Anda akan mampu mengatasi rasa takut Anda dengan cara melakukan hal-hal yang Anda takuti sampai rasa takut itu sudah tidak dapat menguasai diri Anda lagi.

PELAJARI APA YANG ANDA PERLUKAN

Setiap kali memasuki satu bidang baru, Anda harus segera mulai mempelajari apapun yang mungkin Anda pelajari tentang bidang tersebut, kemudian Anda aplikasikan secepat mungkin. Mulailah bertanya atau menanyakan segala sesuatunya tentang semua hal yang Anda perlukan.

Sumber :

Buku ‘Obat Cespleng Bisa Berpikir Positif!’ ; penulis : Muhammad Aulia

Iklan

Starbak Mpok Sopia

Posted: November 7, 2011 in Renungan & Motivasi

Kampungnya Kunang bergetar sejak Mpok Sopia membuka usaha. Mpok Sopia adalah tetangga tujuh rumah dari tempat kediaman Kunang. Ia membuka usaha Warung Kopi, namanya “Starbak Kopi”. Mpok Sopia mengobral cerita bahwa warung kopinya menguntil warung kopi Starbucks, warung kopi orang bule di Amerika yang bermarkas di Seattle, Washington. Melalui Starbak Kopi, Mpok Sopia ingin membuat orang-orang dikampungnya tidak lagi kampungan tetapi gaul dan internasional, istilah modern.

Sejak tangannya patah tertimpa pohon mangga, Kunang tidak lagi nongkrong di warnet. Ia sekarang nongkrong di warung kopi Starbak Mpok Sopia. Nogkrong di Starbak punya sejuta keuntungan dibanding di warnet. Hanya dengan membawa uang dua ribu rupiah ia bisa duduk seharian dengan segelas kopi. Kunang terkadang iba juga melihat Mpok Sopia karena lebih banyak orang yang meminta air panas daripada menambah kopi. Pokoknya tidak ada tempat sebaik dan semurah hati seperti warung Starbak Kopi Mpok Sopia.

Sore itu Kunang sedang menunggu lawan bicara yang tertangguh di warung itu. Dua jam terlewatkan dengan harap-harap cemas. Air panas sudah dua kali ditambahkan pada kopinya. Bahan perdebatan sudah masak di kepalanya. Cermin, kamar mandi, dapur, dan kamar tidur mungkin sudah bosan mendengar kata-katanya. Tiba-tiba mulutnya tertutup rapat dan tertarik ke samping menghasilkan senyum satu garis. Kaocek datang dengan berpenampilan rapi. Teman-teman memanggil dia si pengacara alias si pengangguran banyak bicara. Jika Kunang senang karena kedatangan Kaocek, sebaliknya tidak dengan Mpok Sopia. Kaocek adalah pengutang paling tangguh di warungnya.

“Darimana engkau akan memulai perbaikan negeri ini?”, tak sabar Kunang ingin memulai debat kusir. “Hukum! Jika hukum ditegakkan setegas-tegasnya, saya jamin penjahat akan kapok”, sembur Kaocek bersemangat sambilo mengangkat jari telunjuknya kepada Mpok Sopia. “Tidak, harus perbaikin ekonominya terlebih dahulu. Ekonomi baik, pendidikan bagus, orang pun akan semakin melek hukum dan kejahatan berkurang”, kata Kunang serasa paling bijak di warung itu. “Justru pelaku kejahatan di negeri ini bukan orang bodoh tetapi orang pintar. Bukan orang miskin tetapi orang kaya. Tetapi karena hukum tidak ditegakkan dengan setegas-tegasnya, mereka tetap berbuat jahat”, Kaocek berucap sampai berbusa-busa. Percakapan itu semakin hangat dan semakin ngotot. Orang-orang di warung serasa sedang menonton acara Jakarta Lawyers Club yang tidak jelas ceritanya. “NGOCEH melulu. Bicara seperti orang hebat. Anak dirumah keliaran tidak ada juntrungannya. keluarga terabaikan seperti tidak ada yang mimpin. Bagaimana keluarga bisa bagus kalau dirumah tidak ada yang jadi teladaCepet sono pulang!”, istri Kaocek tiba-tiba datang sambil mencak-mencak. Kaocek punsegera diam seribu bahasa lalu pergi nyelonong begitu saja.

“Kunang, jika engkau ingin memperbaiki negeri ini, mulailah dari keluarga”, tiba-tiba si kakek berbisik dipinggirnya membuat Kunang hampir saja tersedak bubuk kopi. “Maksud kakek?!” “Baik buruknya sebuah masyarakat bersahabat dengan baik buruknya keluarga-keluarga dalam masyarakat itu. Masyarakat yang rusak adalah cerminan dari keluarga-keluarga yang bermasalah. Banyak anak-anak belajar tentang kekerasan itu dalam keluarga. Belajar kebencian dan dendam dari orangtua. Belajar mencuri dari ayah yang korupsi. Belajar berputus asa dari ibu yang terus mengeluh. Belajar untuk tidak takut kepada Tuhan dari orangtua yang cuek terhadap pertumbuhan iman”, ujar si kakek panjang lebar.

“Dengerin tuh, Nang….”, tiba-tiba Mpok Sopia nyela dengan ketus karena terbayang wajahnya Kaocek. “Anak-anak saat ini membutuhkan figur yang bisa diteladani dalam keluarganya. Kita butuh orang-orang tua yang dapat menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian bagi siapapun(lihat 1 Timotius 4:12). Mulailah dari keluarga kita bukan keluarga orang lain’, ujar si kakek sambil meninggalkan warung Strabak, seputar gerobak, milik Mpok Sopia. Kunang terdiam sedih karena perkataan si kakek mengingatkan ia akan bapak dan ibunya dulu.

 

Sumber : Pdt. Rinto Tampubolon (GKI Seroja)